Oleh : Lalu Muhammad Jagad Al Ula
Fajar
mulai terlihat, kokokan ayam pun seolah menyerukan untuk segera memulai berbagai
aktivitas. Sedikit demi sedikit sinar mentari memaksa masuk ke kamar Ardi, Ardi
yang masih berada diatas ranjang pun teringat akan apa agendanya hari itu.
“Hari
ini datang juga, tapi rasanya cepat sekali tiba” gumamnya.
Itu
adalah harinya untuk pergi ke pesantren kilat untuk mengisi liburannya selama
bulan ramadhan. Entah apa yang merasukinya, seolah gaya gravitasi menjadi lebih
besar dan menahannya untuk tetap berada di ranjang hangatnya. Dia masih enggan
untuk meninggalkan kenyamanan ranjangnya.
“Kenapa
sih sampai harus ikut pesantren kilat segala, kan bisa menghafal dirumah”
keluhnya dalam hati.
Dengan
hati yang berat karena tidak pernah tinggal jauh dari orang tua sebelumnya Ardi
kemudian menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan bersiap-siap. Meski
telah bersiap-siap dan rapi Ardi masih terlihat lemas untuk berangkat ke
pesantren.
“Ardi,
ayo sayang, ayahmu sudah menunggu di mobil” kata ibu Ardi.
Ardi
segera naik ke mobil putih yang sudah menunggunya sedari pagi. Nenek, Kakek,
dan Aisyah adik Ardi pun ikut mengantarnya. Selama di perjalanan Ardi hanya
menatap keluar jendela dan sesekali membalas basa-basi yang dilontarkan
keluarganya. Seorang ibu memiliki ikatan batin dengan anaknya, nampaknya hal
ini terbukti dari Ibu Ardi yang ikut merasakan perasaan Ardi yang belum siap
untuk ditinggal sendiri, berbeda dengan Ayahnya yang keukeuh memaksakan
kehendaknya untuk memasukkan Ardi ke pesantren kilat. Namun, meski begitu tentu
orang tua Ardi sangat menyayangi Ardi dan menginginkan yang terbaik untuk anak
sulungnya itu, terlebih lagi di pesantren kilat ini Ardi akan di didik untuk
menjadi seorang penghafal Al-Qur’an.
Setelah
menempuh perjalanan yang lumayan lama, mereka akhirnya tiba di Pesantren Kilat
yang diadakan oleh Badan Penghafal Qur’an Nasional di salah satu pondok
pesantren di Kota Mataram. Sambil berjalan-jalan sebentar di lokasi pesantren
tersebut Ayah Ardi memberikan kalimat-kalimat motivasi untuk Ardi.
“Nak,
menjadi seorang penghafal Al-Qur’an itu tidak mudah, ingatlah akan ada masanya
kamu semangat menghafal dan ada saatnya kamu akan merasa jenuh untuk menghafal,
namun bersabarlah menghadapinya ingatlah Allah menjajikan balasan yang sangat
besar bagi para penghafal Al-Qur’an” nasihat Ayahnya.
“Iya
Ayah, Insyaallah Ardi akan berjuang untuk menghafal Al-Qur’an” jawab Ardi.
“Sayang,
jangan lupa untuk menjaga hafalanmu selalu nantinya, karena yang akan mendapat
balasan dari Allah adalah mereka yang menjaga hafalan mereka sampai nafas yang
terakhir, bukan mereka yang mati dalam keadaan lupa” tambah Ibunya.
“Iya bu, Ardi akan berjuang untuk menjaga
hafalan Ardi. Ardi mohon do’a dan restu Ayah dan Ibu” jawab Ardi sambil memeluk
kedua orang tuanya.
Setelah
menerima berbagai kalimat penambah semangat dari keluarganya, mereka pun pergi
meninggalkan Ardi. Panitia disana kemudian menuntun Ardi ke kamarnya. Di kamar
yang lebih mirip barak tentara itu Ardi segera menyiapkan barang bawaannya.
Ardi duduk termenung karena tidak mengenal satu pun orang yang ada disana.
Tiba-tiba seseorang menepuk pundaknya.
“Eh,
kamu ikut juga kesini?” sapa seseorang yang tak asing bagi Ardi. Ya, dia adalah
Rayhan, teman kecil Ardi. “Rey! Iya aku ikut, kamu ikut juga ya? Wah kebetulan
sekali kita bisa bertemu disini” balas Ardi.
Empat
tahun bukanlah waktu yang singkat, dalam kurun waktu itu tentu sudah banyak
yang terjadi pada seseorang dan itulah yang terjadi diantara mereka berdua
setelah pertemuan terakhir mereka saat duduk di bangku kelas 4 Sekolah Dasar.
Namun, karena orang tua Rayhan dipindah tugaskan ke daerah yang lumayan jauh
mengharuskan mereka berisah saat itu. Mereka mengobrol panjang lebar, bercerita
satu sama lain, dan sesekali ber nostalgia.
“Perhatian!
Seluruh peserta diharapkan untuk segera berkumpul di ruang aula” suara panitia
mengumumkan pemberitahuan yang memotong pebicaraan asyik antara Ardi dan
Rayhan. Mereka kemuadian bergegas menuju ruang Aula. Setelah mendengar beberapa
sambutan, panitia membacakan jadwal selama pesantren kilat diadakan. Ardi
terkejut mendengar jadwal ketat yang diumumkan panitia. Peserta diharuskan
bangun pukul 1 pagi lalu mandi dan mulai menghafal dan beberapa aktivitas
lainnya sampai menjelang berbuka puasa.
“Teeeeetttt!!!!!”
suara bel memecah heningnya malam. “Bangun! Bangun! Sudah pukul 1, semua
peserta diharuskan untu segera mandi!!” himbau panitia.
“Isshhh,
nyebelin banget sih, coba kalo dirumah, masih bisa tidur sampe jam 5, toh juga
masih bisa ngafal” keluhku dalam hati, namun aku sadar aku harus menepis
perasaan itu dan segera mandi. “Brrrrrrrr, mandi apa jam 1 gini, dingin banget”
gumam Ardi sambil keluar dari kamar mandi dengan keadaan menggigil.
Ardi
dan peserta lainnya kemudian mulai menghafal Qur’an, dia memulainya dari surah
Hud juz 11. Ardi menghafal dengan serius, namun satu hari ia baru mendapat 6
halaman. Sedangkan, peserta yang lain sudah mendapat 16 halaman. Ardi kesal
merasa kesal dan frustasi baru menghafal sedikit. Ardi memutuskan untuk
istirahat sejenak, kemudian ia teringat kalimat ustadnya di sekolah, katanya
kunci dalam menghafal adalah “ikhlas”. Ardi tersadar bahwa ia telah melupakan
hal tersebut.
“Pantas
saja aku frustasi, seharusnya aku bersyukur karena telah berhasil menghafal
sebanyak 6 halaman sesuai kemampuanku” gumam Ardi merebahkan diri diatas kasur
keras yang berbeda dengan miliknya di rumah, sampai ia terlelap.
Esoknya
Ardi bertekad untuk ikhlas dalam menghafal. Hingga jam menunjukkan pukul 6,
menandakan waktu istirahat. Ardi dan temannya memilih untuk jalan-jalan
disekitar pondok pesantren bersama teman sekamarnya, Bobi namanya dia berasal
dari Kediri, Lombok Barat. Mereka berjalan melihat pemandangan yang ada
disekitar pesantren tersebut. Pemandangan yang indah itu menambah iman dan
semangat mereka untuk menghafal Al-Qur’an.
“Teettt!!
Teeetttt!! Teeeetttt!!!!” suara bel yang terdengar seantero pesantren
menandakan waktu istirahat telah selesai dan menandakan waktu untuk menghafal
telah tiba.
Benar
saja, setelah menerapkan kunci menhafal yang ia ingat, akhirnya pada hari itu
Ardi berhasil menghafalkan 12 halaman. Ardi sangat senang, namun Ardi tidak
lupa untuk bersyukur atas pencapaiannya dan tidak membuatnya tinggi hati.
Sudah,
hari ke lima dari 20 hari pesantren kilat tersebut, Ardi sudah bisa beradaptasi
dengan lingkungannya, ia mendapatkan teman-teman yang menyenangkan. Mereka berasal
dari Jawa, Sumbawa, dan Bali. Ardi mempunyai 2 orang sahabat disini yaitu Bobi
dan Rayhan. Mereka selalu saling mengingatkan satu sama lain untuk menghafal.
Karena mereka memiliki cita-cita yang sama yaitu menjadi keluarga Allah,
memberikan mahkota kepada kedua orang tua, dan memberi syafaat bagi keluarga.
Begitu juga dengan peserta yang lain.
Seminggu
kemudian, Ardi telah berhasil mendapat 3 juz, peserta yang lain pun ada yang
berhasil menghafal 5 sampai 6 juz. Selama itu Ardi dan peserta yang lain telah
melewati banyak rintangan, karena menghafal memiliki titik semangat dan titik
jenuh, namun Ardi berhasil melewatinya karena telah mendapat nasihat dari
Ayahnya saat masuk ke pesantren ini. Rintangan tersebut pasti akan dialami oleh
para penghafal Al-Qur’an, karena dari sanalah Allah melihat siapa yang pantas
untuk menjadi penghafal dan penjaga Al Qur’an.
“Allahu
akbar, Allahu akbar!” kumandang adzan maghrib menandakan waktu berbuka telah
tiba. Berbuka kali ini, panitia menghidangkan ayam bakar untuk menambah
semangat peserta.
“Ahh,
lagi-lagi dibangunkan dengan suara keras itu” keluh Ardi “malam mana yang tidak
akan pecah dengan suara sekeras itu?”
Tak
lama kemudian kegiatan peserta berlanjut seperti biasanya.
“Siapa
kita? Siapa kitaa!!?” teriak salah satu ketua khalaqah. “Hafidz Quran! Hafidz
Quran! Hafidz Quran!” sahut anggota khalaqah tersebut. Sepertinya mereka
meneriakkan yel-yel untuk menyemangati anggotanya. Malam itu sangat meriah,
peserta diperbolehkan membuat api unggun dan berkumpul untuk saling mengenal
satu sama lain. Ardi sangat senang dan tidak menyangka bahwa pesantren kilat
itu akan menjadi liburan yang menyenangkan.
“Wahai
manusia sekalian, saksikanlah!! Aku akan menunjukkan sebuah sulap yang amat
sangat fantastis!” ucap Rayhan menarik perhatian dan mengundang tawa. “Aku akan
menghilangkan tisu ini!!” Mereka pun menatap dengan saksama. “Ehhh!! Ku kira
sulap benar, dasar kamu ini, hahahaa” ungkap salah satu peserta menanggapi
sulap Rayhan. Tentu saja tisu itu lenyap jika tersulut api. Dan masih banyak
lagi hiburan yang dilakukan peserta lainnya. Malam itu pun berubah menjadi
malam yang menyenangkan.
Sudah
di hari ke 15, Ardi berhasil menghafalkan 8 juz. Semangatnya semakin membara di
minggu terakhir pesantren kilat tersebut. Ardi tiba-tiba merasa rindu dengan
orang tuanya. Tapi Ardi tetap berusaha fokus untuk menghafal, karena salah satu
alasan ia menghafal adalah agar ia dapat membantu keluarganya di akhirat kelak.
Hari
wisuda pun tiba, peserta diwisuda satu persatu. Dan Ardi berhasil menjadi 5
besar wisudawan terbaik. Ardi berhasil menghafal 10 juz dalam waktu 20 hari,
Ardi tak henti-hentinya bersyukur pada Allah SWT. Usahanya telah membuahkan
hasil yang manis, selanjutnya ia masih berjuang untuk menambah hafalannya
sampai khatam dan juga menjaga hafalannya.
5
tahun berlalu, Ardi kini sudah berhasil menghafalkan Al-Qur’an. Ardi menjadi
kepala detektif di BIN (Badan Intelejen Negara). Kinerjanya sangat diakui
sehingga Ardi mendapat kepercayaan dari kepresidenan untuk memegang jabatan tersebut.
Tiba-tiba Ardi mendapat tugas untuk menyelesaikan sebuah kasus pembunuhan di
sebuah hotel di Jakarta. Ardi dan asistennya segera menuju lokasi. Saat sedang
menyelidiki tempat kejadian perkara atau TKP, seorang dokter forensik datang
untuk melakukan pemerikasaan.
“Ardi?”
sapa dokter tersebut meyakinkan diri bertemu dengan Ardi.
“Iya??
Maaf, anda?” tanya Ardi merasa de javu.
“Bobi
dari Kediri, Lombok Barat, peserta pesantren kilat 5 tahun lalu” jawab dokter
forensik itu sambil tersenyum menghilangkan de
javu Ardi.
“Bobi?!!
Ahh, sebuah kesempatan yang luar biasa bisa bertemu denganmu disini!!” kata
Ardi.
Kemudian
datanglah seorang kepala POLRI yang juga familiar di mata Ardi dan Bobi. Ya!
Dia adalah Rayhan. Kasus itu seolah menjadi reuni kecil bagi mereka. Mereka
semua telah berhasil menjadi penghafal Al-Qur’an. Namun, mereka masih tetap
harus menyelesaikan kasus pembunuhan tersebut dahulu.
Mereka
telah berhasil meraih cita-cita mereka karena Al-Qur’an. Allah memudahkan jalan
mereka meraih impian mereka. Menjadi seorang penghafal memang tidak mudah,
pasti akan ada banyak rintangan. Namun, kita harus tetap berjuang untuk menjadi
seorang penghafal dan menjaga hafalan tersebut. Begitu pula negeri harus
memiliki generasi penghafal Qur’an agar bisa menjadi lebih baik. Alasan mengapa
negeri ini masih berada di tempat semula adalah karena negeri ini masih
dipenuhi oleh orang yang berilmu tanpa dibekali akhlak. Ilmu jika tidak
dibekali dengan akhlak akan sia-sia, maka dari itu generasi Indonesia harus membekali
diri dengan Al-Qur’an agar menjadi orang dengan ilmu yang bermanfaat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar