Rabu, 09 Agustus 2017

Keajaiban Langkah Seorang Hafidz

Oleh : Lalu Muhammad Jagad Al Ula

            Fajar mulai terlihat, kokokan ayam pun seolah menyerukan untuk segera memulai berbagai aktivitas. Sedikit demi sedikit sinar mentari memaksa masuk ke kamar Ardi, Ardi yang masih berada diatas ranjang pun teringat akan apa agendanya hari itu.
            “Hari ini datang juga, tapi rasanya cepat sekali tiba” gumamnya.
            Itu adalah harinya untuk pergi ke pesantren kilat untuk mengisi liburannya selama bulan ramadhan. Entah apa yang merasukinya, seolah gaya gravitasi menjadi lebih besar dan menahannya untuk tetap berada di ranjang hangatnya. Dia masih enggan untuk meninggalkan kenyamanan ranjangnya.
            “Kenapa sih sampai harus ikut pesantren kilat segala, kan bisa menghafal dirumah” keluhnya dalam hati.
            Dengan hati yang berat karena tidak pernah tinggal jauh dari orang tua sebelumnya Ardi kemudian menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan bersiap-siap. Meski telah bersiap-siap dan rapi Ardi masih terlihat lemas untuk berangkat ke pesantren.
            “Ardi, ayo sayang, ayahmu sudah menunggu di mobil” kata ibu Ardi.
            Ardi segera naik ke mobil putih yang sudah menunggunya sedari pagi. Nenek, Kakek, dan Aisyah adik Ardi pun ikut mengantarnya. Selama di perjalanan Ardi hanya menatap keluar jendela dan sesekali membalas basa-basi yang dilontarkan keluarganya. Seorang ibu memiliki ikatan batin dengan anaknya, nampaknya hal ini terbukti dari Ibu Ardi yang ikut merasakan perasaan Ardi yang belum siap untuk ditinggal sendiri, berbeda dengan Ayahnya yang keukeuh memaksakan kehendaknya untuk memasukkan Ardi ke pesantren kilat. Namun, meski begitu tentu orang tua Ardi sangat menyayangi Ardi dan menginginkan yang terbaik untuk anak sulungnya itu, terlebih lagi di pesantren kilat ini Ardi akan di didik untuk menjadi seorang penghafal Al-Qur’an.
            Setelah menempuh perjalanan yang lumayan lama, mereka akhirnya tiba di Pesantren Kilat yang diadakan oleh Badan Penghafal Qur’an Nasional di salah satu pondok pesantren di Kota Mataram. Sambil berjalan-jalan sebentar di lokasi pesantren tersebut Ayah Ardi memberikan kalimat-kalimat motivasi untuk Ardi.
            “Nak, menjadi seorang penghafal Al-Qur’an itu tidak mudah, ingatlah akan ada masanya kamu semangat menghafal dan ada saatnya kamu akan merasa jenuh untuk menghafal, namun bersabarlah menghadapinya ingatlah Allah menjajikan balasan yang sangat besar bagi para penghafal Al-Qur’an” nasihat Ayahnya.
            “Iya Ayah, Insyaallah Ardi akan berjuang untuk menghafal Al-Qur’an” jawab Ardi.
            “Sayang, jangan lupa untuk menjaga hafalanmu selalu nantinya, karena yang akan mendapat balasan dari Allah adalah mereka yang menjaga hafalan mereka sampai nafas yang terakhir, bukan mereka yang mati dalam keadaan lupa” tambah Ibunya.
             “Iya bu, Ardi akan berjuang untuk menjaga hafalan Ardi. Ardi mohon do’a dan restu Ayah dan Ibu” jawab Ardi sambil memeluk kedua orang tuanya.
            Setelah menerima berbagai kalimat penambah semangat dari keluarganya, mereka pun pergi meninggalkan Ardi. Panitia disana kemudian menuntun Ardi ke kamarnya. Di kamar yang lebih mirip barak tentara itu Ardi segera menyiapkan barang bawaannya. Ardi duduk termenung karena tidak mengenal satu pun orang yang ada disana. Tiba-tiba seseorang menepuk pundaknya.
            “Eh, kamu ikut juga kesini?” sapa seseorang yang tak asing bagi Ardi. Ya, dia adalah Rayhan, teman kecil Ardi. “Rey! Iya aku ikut, kamu ikut juga ya? Wah kebetulan sekali kita bisa bertemu disini” balas Ardi.
            Empat tahun bukanlah waktu yang singkat, dalam kurun waktu itu tentu sudah banyak yang terjadi pada seseorang dan itulah yang terjadi diantara mereka berdua setelah pertemuan terakhir mereka saat duduk di bangku kelas 4 Sekolah Dasar. Namun, karena orang tua Rayhan dipindah tugaskan ke daerah yang lumayan jauh mengharuskan mereka berisah saat itu. Mereka mengobrol panjang lebar, bercerita satu sama lain, dan sesekali ber nostalgia.
            “Perhatian! Seluruh peserta diharapkan untuk segera berkumpul di ruang aula” suara panitia mengumumkan pemberitahuan yang memotong pebicaraan asyik antara Ardi dan Rayhan. Mereka kemuadian bergegas menuju ruang Aula. Setelah mendengar beberapa sambutan, panitia membacakan jadwal selama pesantren kilat diadakan. Ardi terkejut mendengar jadwal ketat yang diumumkan panitia. Peserta diharuskan bangun pukul 1 pagi lalu mandi dan mulai menghafal dan beberapa aktivitas lainnya sampai menjelang berbuka puasa.
            “Teeeeetttt!!!!!” suara bel memecah heningnya malam. “Bangun! Bangun! Sudah pukul 1, semua peserta diharuskan untu segera mandi!!” himbau panitia.
            “Isshhh, nyebelin banget sih, coba kalo dirumah, masih bisa tidur sampe jam 5, toh juga masih bisa ngafal” keluhku dalam hati, namun aku sadar aku harus menepis perasaan itu dan segera mandi. “Brrrrrrrr, mandi apa jam 1 gini, dingin banget” gumam Ardi sambil keluar dari kamar mandi dengan keadaan menggigil.
            Ardi dan peserta lainnya kemudian mulai menghafal Qur’an, dia memulainya dari surah Hud juz 11. Ardi menghafal dengan serius, namun satu hari ia baru mendapat 6 halaman. Sedangkan, peserta yang lain sudah mendapat 16 halaman. Ardi kesal merasa kesal dan frustasi baru menghafal sedikit. Ardi memutuskan untuk istirahat sejenak, kemudian ia teringat kalimat ustadnya di sekolah, katanya kunci dalam menghafal adalah “ikhlas”. Ardi tersadar bahwa ia telah melupakan hal tersebut.
            “Pantas saja aku frustasi, seharusnya aku bersyukur karena telah berhasil menghafal sebanyak 6 halaman sesuai kemampuanku” gumam Ardi merebahkan diri diatas kasur keras yang berbeda dengan miliknya di rumah, sampai ia terlelap.
            Esoknya Ardi bertekad untuk ikhlas dalam menghafal. Hingga jam menunjukkan pukul 6, menandakan waktu istirahat. Ardi dan temannya memilih untuk jalan-jalan disekitar pondok pesantren bersama teman sekamarnya, Bobi namanya dia berasal dari Kediri, Lombok Barat. Mereka berjalan melihat pemandangan yang ada disekitar pesantren tersebut. Pemandangan yang indah itu menambah iman dan semangat mereka untuk menghafal Al-Qur’an.
            “Teettt!! Teeetttt!! Teeeetttt!!!!” suara bel yang terdengar seantero pesantren menandakan waktu istirahat telah selesai dan menandakan waktu untuk menghafal telah tiba.
            Benar saja, setelah menerapkan kunci menhafal yang ia ingat, akhirnya pada hari itu Ardi berhasil menghafalkan 12 halaman. Ardi sangat senang, namun Ardi tidak lupa untuk bersyukur atas pencapaiannya dan tidak membuatnya tinggi hati.
            Sudah, hari ke lima dari 20 hari pesantren kilat tersebut, Ardi sudah bisa beradaptasi dengan lingkungannya, ia mendapatkan teman-teman yang menyenangkan. Mereka berasal dari Jawa, Sumbawa, dan Bali. Ardi mempunyai 2 orang sahabat disini yaitu Bobi dan Rayhan. Mereka selalu saling mengingatkan satu sama lain untuk menghafal. Karena mereka memiliki cita-cita yang sama yaitu menjadi keluarga Allah, memberikan mahkota kepada kedua orang tua, dan memberi syafaat bagi keluarga. Begitu juga dengan peserta yang lain.
            Seminggu kemudian, Ardi telah berhasil mendapat 3 juz, peserta yang lain pun ada yang berhasil menghafal 5 sampai 6 juz. Selama itu Ardi dan peserta yang lain telah melewati banyak rintangan, karena menghafal memiliki titik semangat dan titik jenuh, namun Ardi berhasil melewatinya karena telah mendapat nasihat dari Ayahnya saat masuk ke pesantren ini. Rintangan tersebut pasti akan dialami oleh para penghafal Al-Qur’an, karena dari sanalah Allah melihat siapa yang pantas untuk menjadi penghafal dan penjaga Al Qur’an.
            “Allahu akbar, Allahu akbar!” kumandang adzan maghrib menandakan waktu berbuka telah tiba. Berbuka kali ini, panitia menghidangkan ayam bakar untuk menambah semangat peserta.
            “Ahh, lagi-lagi dibangunkan dengan suara keras itu” keluh Ardi “malam mana yang tidak akan pecah dengan suara sekeras itu?”
            Tak lama kemudian kegiatan peserta berlanjut seperti biasanya.
            “Siapa kita? Siapa kitaa!!?” teriak salah satu ketua khalaqah. “Hafidz Quran! Hafidz Quran! Hafidz Quran!” sahut anggota khalaqah tersebut. Sepertinya mereka meneriakkan yel-yel untuk menyemangati anggotanya. Malam itu sangat meriah, peserta diperbolehkan membuat api unggun dan berkumpul untuk saling mengenal satu sama lain. Ardi sangat senang dan tidak menyangka bahwa pesantren kilat itu akan menjadi liburan yang menyenangkan.
            “Wahai manusia sekalian, saksikanlah!! Aku akan menunjukkan sebuah sulap yang amat sangat fantastis!” ucap Rayhan menarik perhatian dan mengundang tawa. “Aku akan menghilangkan tisu ini!!” Mereka pun menatap dengan saksama. “Ehhh!! Ku kira sulap benar, dasar kamu ini, hahahaa” ungkap salah satu peserta menanggapi sulap Rayhan. Tentu saja tisu itu lenyap jika tersulut api. Dan masih banyak lagi hiburan yang dilakukan peserta lainnya. Malam itu pun berubah menjadi malam yang menyenangkan.
            Sudah di hari ke 15, Ardi berhasil menghafalkan 8 juz. Semangatnya semakin membara di minggu terakhir pesantren kilat tersebut. Ardi tiba-tiba merasa rindu dengan orang tuanya. Tapi Ardi tetap berusaha fokus untuk menghafal, karena salah satu alasan ia menghafal adalah agar ia dapat membantu keluarganya di akhirat kelak.
            Hari wisuda pun tiba, peserta diwisuda satu persatu. Dan Ardi berhasil menjadi 5 besar wisudawan terbaik. Ardi berhasil menghafal 10 juz dalam waktu 20 hari, Ardi tak henti-hentinya bersyukur pada Allah SWT. Usahanya telah membuahkan hasil yang manis, selanjutnya ia masih berjuang untuk menambah hafalannya sampai khatam dan juga menjaga hafalannya.
            5 tahun berlalu, Ardi kini sudah berhasil menghafalkan Al-Qur’an. Ardi menjadi kepala detektif di BIN (Badan Intelejen Negara). Kinerjanya sangat diakui sehingga Ardi mendapat kepercayaan dari kepresidenan untuk memegang jabatan tersebut. Tiba-tiba Ardi mendapat tugas untuk menyelesaikan sebuah kasus pembunuhan di sebuah hotel di Jakarta. Ardi dan asistennya segera menuju lokasi. Saat sedang menyelidiki tempat kejadian perkara atau TKP, seorang dokter forensik datang untuk melakukan pemerikasaan.
            “Ardi?” sapa dokter tersebut meyakinkan diri bertemu dengan Ardi.
            “Iya?? Maaf, anda?” tanya Ardi merasa de javu.
            “Bobi dari Kediri, Lombok Barat, peserta pesantren kilat 5 tahun lalu” jawab dokter forensik itu sambil tersenyum menghilangkan de javu Ardi.
            “Bobi?!! Ahh, sebuah kesempatan yang luar biasa bisa bertemu denganmu disini!!” kata Ardi.
            Kemudian datanglah seorang kepala POLRI yang juga familiar di mata Ardi dan Bobi. Ya! Dia adalah Rayhan. Kasus itu seolah menjadi reuni kecil bagi mereka. Mereka semua telah berhasil menjadi penghafal Al-Qur’an. Namun, mereka masih tetap harus menyelesaikan kasus pembunuhan tersebut dahulu.

            Mereka telah berhasil meraih cita-cita mereka karena Al-Qur’an. Allah memudahkan jalan mereka meraih impian mereka. Menjadi seorang penghafal memang tidak mudah, pasti akan ada banyak rintangan. Namun, kita harus tetap berjuang untuk menjadi seorang penghafal dan menjaga hafalan tersebut. Begitu pula negeri harus memiliki generasi penghafal Qur’an agar bisa menjadi lebih baik. Alasan mengapa negeri ini masih berada di tempat semula adalah karena negeri ini masih dipenuhi oleh orang yang berilmu tanpa dibekali akhlak. Ilmu jika tidak dibekali dengan akhlak akan sia-sia, maka dari itu generasi Indonesia harus membekali diri dengan Al-Qur’an agar menjadi orang dengan ilmu yang bermanfaat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar