**Oleh : Lalu Muhammad Jagad Al
Ula
Kelas : XII IPA 2 MAN 1 LOMBOK TENGAH
(tulisan ini diupload setelah kelulusan)
Setiap insan yang terlahir ke dunia
sudah memiliki pasangan yang telah ditentukan oleh-Nya. Dan ini adalah sebuah
cerita dari sepasang kekasih yang berjanji menghabiskan hidup mereka bersama-sama.
Kisah ini adalah kisah antara Nur si gadis anggun yang hidup di sebuah kampung
bernama kampung Pengkarek dan calon pangerannya yang bernama Ari berasal dari
kampung Kajanan. Saat itu mereka baru menginjak usia 17 tahun. Mereka berasal
dari keluarga yang sederhana sehingga masing-masing mereka setelah pulang dari
sekolah disibukkan oleh pekerjaan menambah penghasilan membantu membiayai
kehidupan keluarga mereka.
Nur hidup dengan keluarga angkatnya,
karena sejak ia lahir kedua orangtuanya sudah tiada. Namun, meski begitu
keluarga ini sangat menyayanginya seperti anak sendiri., sudah tidak terhitung
kebaikan yang ia dapatkan dari keluarga ini. Meski keluarga Pak Ali dan Ibu
Aminah adalah keluarga yang lengkap karena dikaruniai 1 anak perempuan bernama
Rani dan 1 anak laki-laki bernama Jaka, keluarga ini tetap meberi kasih sayang
yang sama terhadap Nur. Nur kemudian menjadi anak bungsu di keluarga ini dan
Jaka si sulung selalu menjaga adik-adiknya dan melaksanakan tugasnya sebagai
seorang kakak. Nur dan Rani membantu ibunya melakukan pekerjaan rumah.
Sedangkan Jaka sudah bekerja sebagai seorang pengajar di Sekolah Dasar meski
uasianya terbilang masih muda.
Sedangkan Ari, ia memiliki seorang
adik laki-laki bernama Hadi. Ari lebih tua 5 tahun dari Hadi. Keluarganya
mendapat penghasilan dari berjualan kebutuhan pokok sehari-hari. Ari dan Hadi
membantu keluarganya dengan berternak ayam dan sesekali menjual hasilnya ke
pasar. Ari dan Hadi adalah putra-putra dari Pak Gazi dan Suminah.
Siapa yang tak tahu Nur, si kembang
desa yang diakui keanggunannya oleh orang sekampung. Namun lain halnya dengan
Ari yang tak pernah tahu siapa itu Nur, bahkan mungin tidak ada artinya bagi
Ari. Tentu saja tidak, kampung mereka jaraknya tidak dekat sehingga mereka
tidak pernah saling mengenal.
Mereka berada di sekolah yang
berbeda. Ari bersekolah di Madrasah Aliyah. Sedangkan, Nur belajar di Sekolah
Menegah Atas.
Pagi pukul 7 tepat Ari sudah rapi
untuk berangkat sekolah dengan adiknya Hadi. Sekolah diawali dengan upacara bendera
karena itu adalah hari Senin. Ari adalah seorang siswa yang biasa-biasa saja di
kelasnya. Ia tidak bodoh, namun juga tidak mendapat peringkat atas di kelas. Ia
selalu berada di urutan enam peringkat kelasnya sejak kelas satu SMA sampai ia
duduk di kelas dua smester dua ini. Ari bersama kedua teman karibnya Reza dan
Abi biasa berkumpul di Musholla untuk memabahas pelajaran mereka, namun
pembicaraan mereka terkadang lebih sering menjurus kepada bisnis ayam. Mereka
berasal dari kampung yang sama dan memiliki hobi yang sama yaitu memelihara
ayam, jadi pembiacaraan merekapun tak pernah lepas dari ayam.
“Ari! Kami tunggu di musholla, ya!”
ujar Reza dan Abi yang beriringan keluar ruangan meninggalkan Ari yang sedang
mengerjakan latihan.
Tak lama, Ari selesai dengan
latihannya, kemudian segera menyusul kedua temannya ke tempat biasa mereka
berkumpul.
“Ayam!” kejut Ari mengagetkan kedua
temannya.
“Di kandang” sahut Reza yang tak
terkejut dengan suara Ari.
“Setelah ini ulangan matematika,
kalian sudah belajar?” tanya Ari
“Aku sudah” jawab Abi, “Hai, Ida!”
kata Reza tidak menghiraukan Ari dan malah menyapa Ida yang lewat di depan
Musholla.
“Woy! Ayam! Ulangan Matematika!”
kata Ari dan Abi menyoraki Reza.
“Ahhh..? Ulangan Matematika??!!? AKu
belum tuntas belajar!!!!” ungkap Reza
“Teng! Teng!” Bunyi besi yang nyaring
terdengar hingga seantero Madrasah menandakan jam selanjutnya akan dimulai.
Ari dan Abi tersenyum dan
mengingatkan siapa guru mata pelajaran Matematika mereka “Ingat, Pak Syarif
selalu membawa rotan saat ulangan.” Ujar Ari
“Jangan lupa, kita satu kampung
dengan Pak Syarif, bagaimana kalau Pak Syarif memberitahu orang tua kita kalau
kita mendapat nilai buruk, maka hukumannya bisa dapat bonus” tambah Abi. Ari
dan Abi pun berdiri dan segera menuju kelas sambil tertawa jahil.
“Hey! Kalian tega sekali! Ya Allah
beri hamba kemudahan!” harap Reza.
Nur yang bersekolah di SMA adalah
pribadi yang riang dan ia dikenal sebagai siswi yang cerdas di sekolahnya. Meski berbeda sekolah dengan kakaknya Rani, mereka
selalu berangkat sekolah bersama, mereka berangkat sekolah dengan berjalan
kaki, sekolah mereka berdua tidakberjarak terlalu jauh, hanya saja Nur harus
berjalan lebih jauh sedikit dari sekolah kakaknya Rani yang bersekolah di MA
yang sama dengan Ari.
Pada suatu Senin, tanggal satu di
bulan Juni. Ari berangkat sekolah sorang diri. Saat di perjalanan Ari melihat
buku yang jatuh tas pemiliknya. Buku itu, bertuliskan banyak sekali PR, hingga
ia melihat lembar terakhir tertulis hari Senin, 1 Juni.
“1 Juni? Hari ini, PR Matematika?
Mmm.. biasanya guru matematika adalah guru yang galak. Pasti pemilik buku ini
akan mencari buku ini” gumam Ari. “Nama… nama.. nama… Nur Septiani, SMA 1
Kopang, Kelas 2. Ahh.. ini pasti nama pemilik bukunya!!” Ari pun bergegas menuju
ke sekolah tersebut.
Saat Nur sampai di sekolahnya, ia
tersadar buku PR nya htidak ada. Ia berpikir mungkin bukunya terjatuh di jalan
karena melihat tasnya terbuka. Ia bergegas keluar, saat sampai di gerbang ia
melihat seorang lelaki berlari mennggalkan gerbang. Tidak ada rasa penasaran
dalam dirinya tentang laki-laki tersebut, yang ia pikirkan hanya buku
matematikanya yang terjatuh entah dimana. Saat berlari keluar gerbang, Pak
satpam dengan sigap menghentikannya.
“Hey, Nur! Mau kemana kamu?!” tanya
satpam tegas dengan kumis tebalnya.
“I.. iya.. Pak?, saya mau pulang
sebentar, buku saya tertinggal” jawab Nur meyakinkan Pak Satpam tadi.
“Nur Septiani? Kamu kan? Apa buku
ini yang kamu maksud?” tanya Pak Satpam
“Hahh..??! Iya Pak!” Ungkap Nur yang
tak lagi khawatir dengan bukunya. “Tapi bagaimana buku ini bisa ada pada
bapak?” tanya Nur penasaran.
“Tadi ada seorang siswa Madrasah
yang mengantarkan buku ini, katanya dia menemukan buku ini tergeletak di jalan”
jawab Pak Satpam, “Ya sudah, sebentar lagi upacara bendera, kamu kembali saja
ke dalam” perintahnya.
Nur pun segera kembali untuk
bersiap-siap mengikuti upacara bendera setelah berterimakasih pada Pak Satpam
tadi.
“Siapa laki-laki itu? Sungguh baik
hatinya. Semoga Allah memberinya kebaikan” ungkap Nur yang mulai penasaran
dengan sesosok laki-laki yang telah mengantarkan bukunya yang terjatuh.
Ternyata dibalik buku tersebut ada tulisan.
Lain kali jangan
ceroboh lagi
Terutama masalah sekolah
Terlebih lagi pelajaran Matematika
Ari Riadi.
Ari pun lega telah mengembalikan
buku tersebut. Ari berharap semoga buku itu kembali ke tangan pemiliknya dan
tidak terjadi masalah ataupun kesulitan yang bekaitan dengan buku tersebut pada
pemiliknya.
Hari itu Pak Syarif guru matematika
di sekolah Ari mengumumkan nama-nama yang tidak tuntas ulangan matematika
minggu lalu.
“Haahhh…?!! Bagaimana ini!! Padahal
Pak Syarif tidak ada jam pelajaran hari ini!! Tega sekali Pak Syarif menghukum
yang tidak tuntas hari ini” ungkap Reza khawatir karena merasa tidak maksimal
belajar mempersiapkan diri untuk ulangan matematika lalu.
“Haha.. tamat sudah kamu Reza!” ujar
Abi, “Pak Syarif itu tetanggamu kan, Za?” tanya Ari menjahili Reza.
“Kalian ini!! Setidaknya doakan aku
agar namaku tidak disebutkan!!”
“Diam! Bapak akan menyebutkan
nama-nama yang tidak tuntas ulangan, yang tidak tuntas langsung hormat di
lapangan!” tegas Pak Syarif. “Nurul! Ika! Zaini! …” lanjut Pak Syarif . “Reza!”
“Aaaahh…?!!” Abi dan Ari terkejut
bersamaan, terutama Reza yang sudah berjalan ke luar kelas.
“Reza! Mau kemana kamu?” tanya Pak
Syarif. “Kan saya tidak tuntas Pak?” jawab Ari lemas.
“Tidak! Ini, tadi bapakmu menitipkan
buku ini, dia bilang kamu meninggalkannya di atas meja” jelas Pak Syarif. “Jadi
saya tuntas Pak?” tanya Ari penasaran “Iya, kamu tuntas” jawab Pak Syarif.
“Baiklah itu saja yang tidak tuntas, selamat melanjutkan pelajaran” Pak Syarif
kemudian berlalu setelah mengumumkan nama-nama tersebut.
“Alhamdulillah!”
syukur Reza, Abi, dan Ari.
Saat jam istirahat, mereka berkumpul
di Musholla. Mereka membahas tentang ulangan matematika yang telah lalu. Rani
kakak angkat Nur berlalu di depan musholla.
“Assalammualaykum, kak Rani! Saya
titip salam ke Nur” sapa Reza.
“Waalaykummussalam, dasar Reza anak
gombal! Insyaallah, nanti saya sampaikan ke ibumu” jawab Rani sambil mengejek
Reza. “Jangan kak!” mohon reza. Rani kemudian berlalu.
“Ehh.. Za sebaiknya kamu belajar
yang lebih, syukur tadi kamu selamat ulangan matematika” nasihat Abi. “Iya, ya”
jawab Reza.
“Nur? Siapa itu Nur?” tanya Ari penasaran.
“Nur itu anak angkat di keluarga Rani, dia bersekolah di SMA 1” kata Reza
menjawab rasa penasaran Ari.
“Nur, itu cantik sekali, dia adalah
kemabang Pengkarek” sambung Reza.
“Kamu, semua perempuan hafal! Dasar
Ayam!” ejek Abi.
Jaka anak sulung Pak Ali dan Ibu
Aminah sudah menginjak usia dewasa. Jaka hendak meminang seorang gadis untuk
menjadi teman hidupnya. Acara pernikahannya akan dilaksanakan pada hari Minggu.
Pak Gazi yang kenal dekat dengan Pak
Ali, membantu mempersiapkan acara pernikahan Jaka. Ari dan Hadi pun turut
mebantu karena mereka sudah mulai beranjak dewasa. Reza juga ikut membantu
persiapan acara tersebut.
“Reza! Kamu ada disini?” tanya Ari.
“Iya, karena ini adalah acara kakak
sepupu ku, jadi aku ikut membantu disini” jawab Reza. “Ini acara pernikahan
kakak dari kak Rani yang kemarin itu” sambungnya.
“Ohh.. ya?? Maksudmu keluarga
angkatnya Nur itu?” tanya Ari “Iya,” jawab Reza.
Orang-orang sudah mulai
mempersiapkan kebutuhan-kebutuhan acara tersebut. Reza pun sibuk membantu menyiapkan
panggung. Sedangkan Ari membantu mengupas kulit kelapa. Rani dan Nur yang
kakaknya akan segera menikah juga sibuk memasak untuk keperluan konsumsi.
Ari melihat seorang gadis kesulitan
menyalakan api, ia mencoba membantunya.
“Ditiup lebih keras. Seperti ini”
kata Ari. Lalu api menyala.
“Perempuan tenaganya memang tidak
terlalu kuat” balas Nur.
Belum sempat Ari membalas, Bapaknya
memanggil.
“Ari!! Kemari” panggil Pak Gazi
Nur, terkejut mendengarnya. Belum
sempat Nur memanggilnya. Suara Rani memanggil Nur terdengar. “Nur! Apinya sudah
menyala?” tanya Rani. “Sudah Kak” jawab Nur.
Ari mendengar suara Rani dan
menengok ke belakang.
“Nur Septiani?” tanya Ari.
“Ari Riadi?” balas Nur bertanya.
Mereka berdua tertawa cekikikan.
“Terimakasih telah mengantarkan buku
ku waktu itu” ungkap Nur.
“Sama-sama, lain kali pastikan bkumu
tidak jatuh” nasihat Ari.
Sejak pertemuan mereka yang pertama
mereka, mereka kemudian menjadi sepasang kekasih. Dan menjalani hidup dengan
penuh warna hingga usia mereka cukup untuk menjalani hidup bersama.
“Ayo! Larilah bersamaku! Kita
berlari bersama seumur hidup” ungkap Ari.
“Baiklah” Jawab Nur.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar