Rabu, 09 Agustus 2017

LARILAH BERSAMAKU


**Oleh : Lalu Muhammad Jagad Al Ula
Kelas : XII IPA 2 MAN 1 LOMBOK TENGAH
(tulisan ini diupload setelah kelulusan)

( sc : http://www.kabarindonesia.com )

            Setiap insan yang terlahir ke dunia sudah memiliki pasangan yang telah ditentukan oleh-Nya. Dan ini adalah sebuah cerita dari sepasang kekasih yang berjanji menghabiskan hidup mereka bersama-sama. Kisah ini adalah kisah antara Nur si gadis anggun yang hidup di sebuah kampung bernama kampung Pengkarek dan calon pangerannya yang bernama Ari berasal dari kampung Kajanan. Saat itu mereka baru menginjak usia 17 tahun. Mereka berasal dari keluarga yang sederhana sehingga masing-masing mereka setelah pulang dari sekolah disibukkan oleh pekerjaan menambah penghasilan membantu membiayai kehidupan keluarga mereka.
            Nur hidup dengan keluarga angkatnya, karena sejak ia lahir kedua orangtuanya sudah tiada. Namun, meski begitu keluarga ini sangat menyayanginya seperti anak sendiri., sudah tidak terhitung kebaikan yang ia dapatkan dari keluarga ini. Meski keluarga Pak Ali dan Ibu Aminah adalah keluarga yang lengkap karena dikaruniai 1 anak perempuan bernama Rani dan 1 anak laki-laki bernama Jaka, keluarga ini tetap meberi kasih sayang yang sama terhadap Nur. Nur kemudian menjadi anak bungsu di keluarga ini dan Jaka si sulung selalu menjaga adik-adiknya dan melaksanakan tugasnya sebagai seorang kakak. Nur dan Rani membantu ibunya melakukan pekerjaan rumah. Sedangkan Jaka sudah bekerja sebagai seorang pengajar di Sekolah Dasar meski uasianya terbilang masih muda.
            Sedangkan Ari, ia memiliki seorang adik laki-laki bernama Hadi. Ari lebih tua 5 tahun dari Hadi. Keluarganya mendapat penghasilan dari berjualan kebutuhan pokok sehari-hari. Ari dan Hadi membantu keluarganya dengan berternak ayam dan sesekali menjual hasilnya ke pasar. Ari dan Hadi adalah putra-putra dari Pak Gazi dan Suminah.
            Siapa yang tak tahu Nur, si kembang desa yang diakui keanggunannya oleh orang sekampung. Namun lain halnya dengan Ari yang tak pernah tahu siapa itu Nur, bahkan mungin tidak ada artinya bagi Ari. Tentu saja tidak, kampung mereka jaraknya tidak dekat sehingga mereka tidak pernah saling mengenal.
            Mereka berada di sekolah yang berbeda. Ari bersekolah di Madrasah Aliyah. Sedangkan, Nur belajar di Sekolah Menegah Atas.
            Pagi pukul 7 tepat Ari sudah rapi untuk berangkat sekolah dengan adiknya Hadi. Sekolah diawali dengan upacara bendera karena itu adalah hari Senin. Ari adalah seorang siswa yang biasa-biasa saja di kelasnya. Ia tidak bodoh, namun juga tidak mendapat peringkat atas di kelas. Ia selalu berada di urutan enam peringkat kelasnya sejak kelas satu SMA sampai ia duduk di kelas dua smester dua ini. Ari bersama kedua teman karibnya Reza dan Abi biasa berkumpul di Musholla untuk memabahas pelajaran mereka, namun pembicaraan mereka terkadang lebih sering menjurus kepada bisnis ayam. Mereka berasal dari kampung yang sama dan memiliki hobi yang sama yaitu memelihara ayam, jadi pembiacaraan merekapun tak pernah lepas dari ayam.
            “Ari! Kami tunggu di musholla, ya!” ujar Reza dan Abi yang beriringan keluar ruangan meninggalkan Ari yang sedang mengerjakan latihan.
            Tak lama, Ari selesai dengan latihannya, kemudian segera menyusul kedua temannya ke tempat biasa mereka berkumpul.
            “Ayam!” kejut Ari mengagetkan kedua temannya.
            “Di kandang” sahut Reza yang tak terkejut dengan suara Ari.
            “Setelah ini ulangan matematika, kalian sudah belajar?” tanya Ari
            “Aku sudah” jawab Abi, “Hai, Ida!” kata Reza tidak menghiraukan Ari dan malah menyapa Ida yang lewat di depan Musholla.
            “Woy! Ayam! Ulangan Matematika!” kata Ari dan Abi menyoraki Reza.
            “Ahhh..? Ulangan Matematika??!!? AKu belum tuntas belajar!!!!” ungkap Reza
            “Teng! Teng!” Bunyi besi yang nyaring terdengar hingga seantero Madrasah menandakan jam selanjutnya akan dimulai.
            Ari dan Abi tersenyum dan mengingatkan siapa guru mata pelajaran Matematika mereka “Ingat, Pak Syarif selalu membawa rotan saat ulangan.” Ujar Ari
            “Jangan lupa, kita satu kampung dengan Pak Syarif, bagaimana kalau Pak Syarif memberitahu orang tua kita kalau kita mendapat nilai buruk, maka hukumannya bisa dapat bonus” tambah Abi. Ari dan Abi pun berdiri dan segera menuju kelas sambil tertawa jahil.
            “Hey! Kalian tega sekali! Ya Allah beri hamba kemudahan!” harap Reza.
            Nur yang bersekolah di SMA adalah pribadi yang riang dan ia dikenal sebagai siswi yang cerdas di sekolahnya.  Meski berbeda sekolah dengan kakaknya Rani, mereka selalu berangkat sekolah bersama, mereka berangkat sekolah dengan berjalan kaki, sekolah mereka berdua tidakberjarak terlalu jauh, hanya saja Nur harus berjalan lebih jauh sedikit dari sekolah kakaknya Rani yang bersekolah di MA yang sama dengan Ari.
            Pada suatu Senin, tanggal satu di bulan Juni. Ari berangkat sekolah sorang diri. Saat di perjalanan Ari melihat buku yang jatuh tas pemiliknya. Buku itu, bertuliskan banyak sekali PR, hingga ia melihat lembar terakhir tertulis hari Senin, 1 Juni.
            “1 Juni? Hari ini, PR Matematika? Mmm.. biasanya guru matematika adalah guru yang galak. Pasti pemilik buku ini akan mencari buku ini” gumam Ari. “Nama… nama.. nama… Nur Septiani, SMA 1 Kopang, Kelas 2. Ahh.. ini pasti nama pemilik bukunya!!” Ari pun bergegas menuju ke sekolah tersebut.
            Saat Nur sampai di sekolahnya, ia tersadar buku PR nya htidak ada. Ia berpikir mungkin bukunya terjatuh di jalan karena melihat tasnya terbuka. Ia bergegas keluar, saat sampai di gerbang ia melihat seorang lelaki berlari mennggalkan gerbang. Tidak ada rasa penasaran dalam dirinya tentang laki-laki tersebut, yang ia pikirkan hanya buku matematikanya yang terjatuh entah dimana. Saat berlari keluar gerbang, Pak satpam dengan sigap menghentikannya.
            “Hey, Nur! Mau kemana kamu?!” tanya satpam tegas dengan kumis tebalnya.
            “I.. iya.. Pak?, saya mau pulang sebentar, buku saya tertinggal” jawab Nur meyakinkan Pak Satpam tadi.
            “Nur Septiani? Kamu kan? Apa buku ini yang kamu maksud?” tanya Pak Satpam
            “Hahh..??! Iya Pak!” Ungkap Nur yang tak lagi khawatir dengan bukunya. “Tapi bagaimana buku ini bisa ada pada bapak?” tanya Nur penasaran.
            “Tadi ada seorang siswa Madrasah yang mengantarkan buku ini, katanya dia menemukan buku ini tergeletak di jalan” jawab Pak Satpam, “Ya sudah, sebentar lagi upacara bendera, kamu kembali saja ke dalam” perintahnya.
            Nur pun segera kembali untuk bersiap-siap mengikuti upacara bendera setelah berterimakasih pada Pak Satpam tadi.
            “Siapa laki-laki itu? Sungguh baik hatinya. Semoga Allah memberinya kebaikan” ungkap Nur yang mulai penasaran dengan sesosok laki-laki yang telah mengantarkan bukunya yang terjatuh. Ternyata dibalik buku tersebut ada tulisan.
            Lain kali jangan ceroboh lagi
                Terutama masalah sekolah
                Terlebih lagi pelajaran Matematika
                Ari Riadi.
            Ari pun lega telah mengembalikan buku tersebut. Ari berharap semoga buku itu kembali ke tangan pemiliknya dan tidak terjadi masalah ataupun kesulitan yang bekaitan dengan buku tersebut pada pemiliknya.
            Hari itu Pak Syarif guru matematika di sekolah Ari mengumumkan nama-nama yang tidak tuntas ulangan matematika minggu lalu.
            “Haahhh…?!! Bagaimana ini!! Padahal Pak Syarif tidak ada jam pelajaran hari ini!! Tega sekali Pak Syarif menghukum yang tidak tuntas hari ini” ungkap Reza khawatir karena merasa tidak maksimal belajar mempersiapkan diri untuk ulangan matematika lalu.
            “Haha.. tamat sudah kamu Reza!” ujar Abi, “Pak Syarif itu tetanggamu kan, Za?” tanya Ari menjahili Reza.
            “Kalian ini!! Setidaknya doakan aku agar namaku tidak disebutkan!!”
            “Diam! Bapak akan menyebutkan nama-nama yang tidak tuntas ulangan, yang tidak tuntas langsung hormat di lapangan!” tegas Pak Syarif. “Nurul! Ika! Zaini! …” lanjut Pak Syarif . “Reza!”
            “Aaaahh…?!!” Abi dan Ari terkejut bersamaan, terutama Reza yang sudah berjalan ke luar kelas.
            “Reza! Mau kemana kamu?” tanya Pak Syarif. “Kan saya tidak tuntas Pak?” jawab Ari lemas.
            “Tidak! Ini, tadi bapakmu menitipkan buku ini, dia bilang kamu meninggalkannya di atas meja” jelas Pak Syarif. “Jadi saya tuntas Pak?” tanya Ari penasaran “Iya, kamu tuntas” jawab Pak Syarif. “Baiklah itu saja yang tidak tuntas, selamat melanjutkan pelajaran” Pak Syarif kemudian berlalu setelah mengumumkan nama-nama tersebut.
“Alhamdulillah!” syukur Reza, Abi, dan Ari.
            Saat jam istirahat, mereka berkumpul di Musholla. Mereka membahas tentang ulangan matematika yang telah lalu. Rani kakak angkat Nur berlalu di depan musholla.
            “Assalammualaykum, kak Rani! Saya titip salam ke Nur” sapa Reza.
            “Waalaykummussalam, dasar Reza anak gombal! Insyaallah, nanti saya sampaikan ke ibumu” jawab Rani sambil mengejek Reza. “Jangan kak!” mohon reza. Rani kemudian berlalu.
            “Ehh.. Za sebaiknya kamu belajar yang lebih, syukur tadi kamu selamat ulangan matematika” nasihat Abi. “Iya, ya” jawab Reza.
            “Nur? Siapa itu Nur?” tanya Ari penasaran. “Nur itu anak angkat di keluarga Rani, dia bersekolah di SMA 1” kata Reza menjawab rasa penasaran Ari.
            “Nur, itu cantik sekali, dia adalah kemabang Pengkarek” sambung Reza.
            “Kamu, semua perempuan hafal! Dasar Ayam!” ejek Abi.
            Jaka anak sulung Pak Ali dan Ibu Aminah sudah menginjak usia dewasa. Jaka hendak meminang seorang gadis untuk menjadi teman hidupnya. Acara pernikahannya akan dilaksanakan pada hari Minggu.
            Pak Gazi yang kenal dekat dengan Pak Ali, membantu mempersiapkan acara pernikahan Jaka. Ari dan Hadi pun turut mebantu karena mereka sudah mulai beranjak dewasa. Reza juga ikut membantu persiapan acara tersebut.
            “Reza! Kamu ada disini?” tanya Ari.
            “Iya, karena ini adalah acara kakak sepupu ku, jadi aku ikut membantu disini” jawab Reza. “Ini acara pernikahan kakak dari kak Rani yang kemarin itu” sambungnya.
            “Ohh.. ya?? Maksudmu keluarga angkatnya Nur itu?” tanya Ari “Iya,” jawab Reza.
            Orang-orang sudah mulai mempersiapkan kebutuhan-kebutuhan acara tersebut. Reza pun sibuk membantu menyiapkan panggung. Sedangkan Ari membantu mengupas kulit kelapa. Rani dan Nur yang kakaknya akan segera menikah juga sibuk memasak untuk keperluan konsumsi.
            Ari melihat seorang gadis kesulitan menyalakan api, ia mencoba membantunya.
            “Ditiup lebih keras. Seperti ini” kata Ari. Lalu api menyala.
            “Perempuan tenaganya memang tidak terlalu kuat” balas Nur.
            Belum sempat Ari membalas, Bapaknya memanggil.
            “Ari!! Kemari” panggil Pak Gazi
            Nur, terkejut mendengarnya. Belum sempat Nur memanggilnya. Suara Rani memanggil Nur terdengar. “Nur! Apinya sudah menyala?” tanya Rani. “Sudah Kak” jawab Nur.
            Ari mendengar suara Rani dan menengok ke belakang.
            “Nur Septiani?” tanya Ari.
            “Ari Riadi?” balas Nur bertanya.
            Mereka berdua tertawa cekikikan.
            “Terimakasih telah mengantarkan buku ku waktu itu” ungkap Nur.
            “Sama-sama, lain kali pastikan bkumu tidak jatuh” nasihat Ari.
            Sejak pertemuan mereka yang pertama mereka, mereka kemudian menjadi sepasang kekasih. Dan menjalani hidup dengan penuh warna hingga usia mereka cukup untuk menjalani hidup bersama.
            “Ayo! Larilah bersamaku! Kita berlari bersama seumur hidup” ungkap Ari.
            “Baiklah” Jawab Nur.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar